Tampilkan postingan dengan label Obat & Vitamin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obat & Vitamin. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Desember 2015

3 Suplemen Vitamin Ini Ternyata Bisa Berdampak Buruk!

Apakah Anda termasuk orang yang rajin mengonsumsi suplemen vitamin?
Jika iya, apakah ada manfaat yang Anda dapatkan?
Dari 50 penelitian skala besar yang dilakukan peneliti pada suplemen, tak ditemukan satu pun manfaat suplemen vitamin terhadap penyakit jantung atau kanker.

See Sandquist, seorang ahli diet dan juru bicara di Academy Nutrition and Dietetics justru berpendapat bahwa terlalu banyak mengonsumsi suplemen vitamin justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Berikut ini adalah beberapa jenis suplemen vitamin terpopuler yang bisa berdampak buruk jika dikonsumsi terlalu banyak, seperti dilansir oleh US News (24/04).

1. Vitamin E

Vitamin E diketahui sebagai salah satu nutrisi yang bisa mencegah kanker kulit. Namun penelitian yang dilakukan oleh national Cancer Institute pada tahun 2001 justru menunjukkan bahwa pria yang mengonsumsi vitamin E memiliki risiko 17 persen lebih tinggi untuk terkena kanker kulit.


Akan lebih baik jika vitamin E didapatkan secara alami, misalkan dengan mengonsumsi makanan kaya vitamin E seperti brokoli, biji bunga matahari, dan lainnya. Jangan mengonsumsi suplemen vitamin E secara berlebihan karena suplemen tersebut akan kehilangan khasiatnya jika dikonsumsi terlalu banyak.

2. Vitamin A

Vitamin A baik untuk kesehatan mata dan menunjang kesehatan reproduksi, tulang, serta fungsi kekebalan tubuh. Suplemen vitamin A bisa sangat berguna bagi orang-orang yang menghindari lemak, seperti yang memiliki kelainan pankreas, atau penyakit Crohn.

Vitamin A yang berbentuk beta-carotene juga diketahui mampu mencegah kanker. Namun ini berlaku untuk vitamin A yang didapat secara alami. Penelitian menunjukkan bahwa suplemen vitamin A justru bereaksi sebaliknya. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi suplemen vitamin A justru 18 persen lebih mungkin terkena kanker paru-paru dan delapan persen lebih berisiko mati dibandingkan orang yang tidak mengonsumsi suplemen vitamin A.

3. Vitamin C

Vitamin C selalu dikaitkan dengan kekuatannya melawan infeksi dan menguatkan sistem kekebalan tubuh. sementara vitamin C yang didapatkan secara alami diketahui memiliki peran penting dalam menguatkan sistem imun, namun suplemen vitamin C hanya menunjukkan sedikit kaitan dengan sistem kekebalan tubuh. Tak ada bukti jelas bahwa suplemen vitamin C bisa mencegah penyakit dan menguatkan kekebalan tubuh.

Tak seperti vitamin A, vitamin C larut dalam air, sehingga jika Anda mengonsumsi terlalu banyak suplemen vitamin C, biasanya tak akan mengendap dalam tubuh dan menyebabkan penyakit. Meski begitu, efek samping seperti diare, kram perut, atau mual bisa terjadi.

Meski begitu, peneliti juga menjelaskan bahwa mengonsumsi suplemen vitamin C dalam skala besar bisa meningkatkan risiko batu ginjal. Seseorang yang mengonsumsi lebih dari 500 miligram suplemen vitamin C sehari sangat berisiko mengalami batu ginjal.

Dari pemaparan di atas, ada baiknya Anda waspada ketika mengonsumsi suplemen vitamin. Lebih baik mengonsumsi makanan yang kaya vitamin dan mendapatkan nutrisi secara alami dibandingkan dengan mengonsumsi suplemen yang justru bisa berbahaya bagi kesehatan.

Sumber: merdeka.com

Minggu, 02 Maret 2014

Vitamin dan Suplemen

Vitamin dan Mineral biasa kita jumpai dalam bentuk sediaan Multivitamin dan suplemen yang mudah kita didapatkan di apotek dan toko obat. Sediaan Multivitamin dan supplement termasuk obat bebas atau obat OTC yang bisa diperoleh tanpa resep dokter. Penggunaanya pun tanpa aturan khusus, karena tidak memiliki efek samping yang signifikan.

Walaupun begitu, penggunaan vitamin dan mineral harus diperhatikan. Pada dosis lazim zat tersebut akan sangat berguna oleh tubuh, namun pada dosis tinggi akan mengganggu keseimbangan tubuh, malah akan menimbulkan suatu efek yang tidak diinginkan.

Penggunaan vitamin dan mineral relative aman walaupun digunakan secara rutin. Namun dalam beberapa keadaan, penggunaan multivitamin dan suplemen sebaiknya diperhatikan, salah satunya jika vitamin dan mineral diberikan bersamaan dengan obat lain. Vitamin dan Mineral dapat berinteraksi dengan beberapa obat. Oleh karena itu Tenaga kefarmasian perlu mengetahui interaksi obat. Tenaga kefarmasian sebaiknya melakukan konseling terhadap pasien, mengingat Vitamin dan Mineral dapat dibeli bebas di apotek dan toko obat.  Pengetahuan terhadap interaksi obat ini tidak pula menyebabkan kita over-reacting atau paranoid, dengan serta-merta meng-avoid salah satu obat untuk menghindari interaksi obat yang tidak diinginkan. Hal tersebut dikarenakan  interaksi obat bisa dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya adalah dosis, cara pemberian, waktu pemberian, dan faktor lain2. Farmasis sebaiknya bijak dalam menghadapi interaksi obat ini, dengan memperhatikan kebutuhan pasien dan keamanan pasien. Berikut beberpa contoh interaksi obat dengan vitamin dan mineral

VITAMIN

Vitamin A

Vitamin A berinteraksi dengan produk yang mengandung senyawa retinoid (seyawa kimianya menyerupai vitamin A). Retinoid terdiri atas isotretinoin dan acitretin, yang biasanya digunakan pada obat jerawat dan obat psoriasis. Jadi jika ada pasien mendapat resep yang dimana isinya produk yang mengandung retinoid, pharmacist harus memperingatkan pasien itu untuk menghindari penggunaan vitamin A. Karena dapat meningkatkan toksisitas vitamin A. Pharmamcist juga sebaiknya menginfokan gejala toksisitas vitamin A kepada pasien, yang meliputi mual, muntah, pusing, penglihatan kabur,
Contoh obat jerawat yang mengandung retinoid adalah : Retin-A®, Nuface®, Jeraklin®, Skinovit®, Tracne®, Trentin®, Vitacid®, dll

Vitamin B6

Vitamin B6 atau disebut juga dengan pyridoxine, adalah vitamin yang larut air, yang digunakan dalan penanganan defisiensi vitamin B6 dan beberapa kasus anemia. Piridoksin dapat menurunkan efek obat dari fenitoin dan levedopa. Efek ini tidak terlihat jika levedopa diresepkan kombinasi dengan carbidopa. Kombinasi levedopa dan carbidopa dapat mencagah interaksi tersebut. Jika pasien menerima resep levodopa tanpa kombinasi dengan carbidopa, maka pharmacist sebaiknya memberi peringatan terhadap pasien agar tidak mengkonsumi vitamin B6 atau produk obat yang mengandung vitamin B6. Hal itu dikarenakan Vitamin B6 pada dosis kecil (sekitar 10-25 mg Vitamin B6) cukup untuk menghambat ativitas levedopa.

Pada kasus tertentu Vitamin B6 pada dosis tinggi dapat menurunkan konsentrasi fenitoin dalam serum, jadi dapat menurunkan khasit dari phenitoin. Salah satu studi mengunkapkan bahwa terdapat pasien mengalami seizure disorder terkait dengan penggunaan vitamin B6 200mg/hari. Penggunaan vitamin tersebut dapat menyebabkan terjadinya penurunan konsentrasi fenitoin hampir 50%. Sedangkan efek Vitamin B6 dengan dosis dibawah 200mg/hari terhadap kadar fenitoin di dalam plasma belum terbukti secara jelas. Selama penggunaan fenitoin, disarankan pasien untuk tidak mengkonsumsi Vitamin B6, jika ingin tetap menggunakan suplemen Vitamin B6, dosis multivitamin diperkecil atau dosis fenitoinnya yang diperbesar

*contoh obat yang mengandung phenytoin : Dilantin, Ikaphen, Kutoin-100, Movileps, Phenilep.
contoh multivitamin yang mengandung Vitamin B6 200mg/tab : Farbion®, ikaneuron®, Lapibion®, Licobion®, Daneuron®, Corobion®, Corsaneuron®, Biomex®, Biocombin®, Betrion®, Neurodex®, Neurosanbe®, Mersibion®, dll

Vitamin E

Vitamin E adalah vitamin yang larut dalam lemak. Vitamin ini biasanya digunakan pada penanganan defisiensi vitamin E, atherosclerosis, penyakit alzeimer, dan pada beberapa kanker. Vitamin ini juga merupakan suplemen yang diberikan pada pasien dengan cardiovascular disease. Beberapa kasus yang dilaporkan adalah bahwa Vitamin E dapat meningkatkan resiko pendarahan jika Vitamin E diberikan secara bersamaan dengan Warfarin. Efek samping ini biasanya terjadi jika pemberian vitamin dalam dosis besar (lebih dari 800 IU). Farmasis sebaiknya menyarankan pada pasien yang menggunakan warfarin, jika ingin menkonsumsi supplement vitamin E lebih baik dalam bentuk sediaan multivitamin, lebih baik tidak menggunakan supplement vitamin yang kandungannya hanya tunggal/Vitamin E saja.

Masih controversial bahwa vitamin E dan suplemen antioksidan berefek pada khemoterapi. Secara teori terdapat adanya interaksi antara antioksidan dengan agen kemoterapi yaitu dengan mengganggu mekanisme oksidatifnya. Dalam klinis interaksi ini masih belum diketahui. Tapi walaupun belum dikaetahui secara klinis, akan bermanfaat jika Farmasis menyarankan pasien untuk menghindari penggunaan supplement antioksidant ketika menjalani pengobatan kemoterapi. Walaupun begitu, terkadang antioksidan digunakan juga untuk mencegah atau mengurangi efek toksik dari agen khemoterapi tertentu. Pasien yang sedang menjalani kemoterapi sebaiknya jangan sembarangan mengkonsumsi supplement atas inisiatif sendiri, sebaiknya dikonsultasikan dan diceritakan  kepada dokter onkologi,  suplemen apa saja yang akan di gunakan oleh pasien.

*dipasaran sediaan vitamin E tunggal tersedia dalam 100 IU (Lanturol®, Nature-E®, Tokovin®), 200 IU (Bio-E 200®, Dalfarol®, Evion 200®, Lanturol-200®, Prima-E®, Vitaferol® dll), 400 IU (Dalfarol®, Lanturol-400®, Naturol®, Proxidan 400®, Vinpo-E®, dll)

*contoh sediaan obatyang mengadung Warfarin : Simarc-2®, Warfarin Eisai®

Vitamin K

Vitamin K berinteraksi dengan warfarin. Saat Warfarin dan Vitamin K diberikan secara bersamaan, efektivitas Warvarin menurun. Hal ini dapat meningkatkan resiko pada pasien yang mendapat terapi suboptimal antikoagulan, hal ini dapat memicu tromboembolic pada  pasien dengan deep venous thrombosis, pulmonary embolism, myocardial infarction, or stroke. Vitamin K terdapat pada sayuran hijau seperti bayam dan brokoli. Farmasis sebaiknya menyarankan pasien dengan terapi warfarin untuk menjaga asupan vitamin K dari sayuran hijau secara konsisten, hindari penggunaan suplemen yang mengandung vitamin K yang tidak konsisten. Sebagai contoh pasien sebaiknya tidak merubah asupan rutin suplemen yang mengandung vitamin K.


*contoh suplemen yang mengandung vitamin K : Provital®

Niasin

Niasin biasanya digunakan untuk treatment hyperlipidemia dan pellagra. Beberapa pasien yang menderita hiperlipidemia melakukan self-medication dengan mengkonsumsi suplemen yang menagandung niasain. Kombinasi niasin dan HMG-CoA redctase inhibitors (statin) dapat meningkatkan resiko myopathies dan rhabdomyolysis. Penggunaan niasin dengan statin direkomendasikan hanya jika penggunaannya lebih bermanfaat untuk menurunkan lipid daripada resiko myopaties dan rhabdomyolysis. Intraksi antara niasin dan obat statin terjadi bila dosis niasin 1g /hari atau lebih dari itu. Biasanya niasin pada sediaan obat OTC tidak tersedia dalam dosis tinggi. Farmasis sebaiknya menganjurkan pasien agar mengkonsumsi niasin atas dasar pengawasan dokter.
* Contoh sediaan multivitamin dengan Niasin : Biocholes® (Niasin 6mg), Kitoles® (Niasin 30 mg), Niaspan® (Gol Obat G, Niasin 375 mg, 500mg, 750mg, 1000mg)

Asam Folat

Asam folat biasanya digunakan untuk menangani dan mencegah defisiensi asan folat. Suplemen asam folat biasanya direkomendasikan selama pengobatan methotrexate sebagai propilaksis keracunan pada pasien penderita rheumatoid dan psoriasis. Dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa suplemen asam folat menurunkan toksisitas methotrexate. Fatmasis sebaiknya merekomendasikan suplemen asam folat pada pasien dengan pengobatan methotrexate untuk penderita rheumatoid arthritis atau psoriasis, terutama jika terdapat efek samping (toksisitas) yaitu berupa sel darah yang tidak normal, mucositis dan diare terjadi. Walaupun begitu perlu dicatat bahwa asam folat dapat menurunkan efektifitas dari methotrexate pada terapi kanker.

Asam folat dilaporkan juga dapat menurunkan efektifitas dari phenitoin, hanya dengan dosis 5 mg/hari atau lebih, dimana pada dosis ini bukan merupakan sediaan obat OTC

*Contoh sediaan yang mengandung asam folat: Avomix®, Armovit®, Cerebrovit Active®, Lipagent®, Lactacin®, Vomilat®, Provital®, dll
 
MINERAL

Kalsium

Kalsium adalah mineral yang digunakan untuk mencegah atau mentreatment osteoporosis. Kalsium ditemukan pada makanan sehari-hari. Kalsium tersedia dalam bentuk suplemen, kalsium terdapat juga dalam sediaan obat antasid. Karena interaksi beberapa obat dengan kalsium begitu signifikan, maka farmasis perlu menyakan asupan kalsium pasien tiap harinya.

Mekanisme interaksi kalsium dengan beberapa obat yaitu dengan menurunkan absorbsi obat denagan mekanisme ‘chelat’. Interkasi signifikan terjadi pada antara kalsium dengan beberapa antibiotik yaitu tetrasiklin dan antibiotic golongan fluoroquinolon. Kalsium karbonat dapat menurunkan bioavailibilitas ciprofloxacin sampai 40%. Pasien dengan pengobatan tetrasiklin dan antibiotic fluoquinolon sebaiknya dihindari penggunaan supllemen kalsium selama pengobatan tersebut

Farmasis sebaiknya menginstruksikan pasien untuk memberi jeda antara minum suplemen kalsium/antacid dengan antibiotik tetarasikin/antibiotic golongan flurokuinolon. Masih kontrovesial tentang waktu jeda, tapi paling tidak minimal diberi jeda selam dua jam, ada beberapa sumber yang mengatakan diberi jeda minimal 4-6 jam.  Sebagai contoh penggunaan suplemen kalsium dan levothyroxine diberi jeda minimal 4 jam.

Sebagai tambahan, penting dicatat bahwa ada beberapa obat yang apabila digunakan secara terus menerus dapat berefek terhadap jumlah kalsium yang berada dalam tubuh, Misalnya kortikosteroid dapat menurunkan absorbsi kalsium, dimana dalam waktu lama dapat memicu osteoporosis. Obat-obatan seperti Phenitoin, Phenobarbital dan orlistat dapat meneurunkan jumlah kalsium dalam tubuh. Pasien dengan pengobatan tersebut, lebih baik dibarengi dengan asupan suplemen kalsium, terutama suplemen kalsium yang juga mengandung vitamin D. Disinilah peran Farmasis dalam merekomendasikan asupan kalsium

Alumunium dan Magnesium

Alumunium dan magnenisum memang tidak tersedia dalam bentuk suplemen, walaupun begitu magnesium dan alumuniaum terdapat dalam obat OTC seperti pada antacid. Seperti kalsium, kedua meineral ini dapat mengikat beberapa obat, sehingga dapat menurunkan bioavaibilitas dan menurunkan efektifitas obat tersebut. Obat yang dipengaruhi oleh kedua mineral ini adalah, antibiotic fluorokuinolon, tetrasiklin, bisphosponat dan levothyroxine. Farmasis sebaiknya menyarankan pasien untuk memberi jeda (paling tidak 2 jam) dalam mengkonsumsi keduanya.

Besi

Suplemen besi dibutuhkan bila tubuh tidak dapat membentuk sel darah merah yang cukup. Kekurangan besi dapat menyebabkan kelelahan, kesulitan bernafas, menurunkan kekuatan fisik tubuh, menurunkan daya belajar, dan dapat meningkatkan resiko infeks.

Pasien disarankan untuk menghindari penggunaan suplemen besi bersamaan dengan Antibiotik Tetrasiklin, Antibiotik gol Fluoroquinolone, Digoxin, or Levothyroxine.Setidaknya diberi waktu jeda 2 jam. Pasien yang menggunakan suplemen kalsium dan besi, sebaiknya diberikan informasi sebaiknya digunakan pada waktu yang berbeda karena kedua suplemen tersebut saling bersaing untuk diabsorbsi.

Garam besi juga dapat berinteraksi pada abosrbsi levedopa, sehingga dapat menurunkan kadar levedopa dalam darah. Pasien denagan syndrome Parkinson sebaiknya dilarang penggunaan suplemen besi. Apabila keadaanyan sangat membutuhkan suplemen besi, maka dosis levedopa sebaiknya ditingkatkan. Besi juga memperburuk hipertensi pada pasien yang sedang mendapatkan pengobatan metildopa, maka penggunaan suplemen besi sebaiknya jangan terus menerus.

Absorbsi besi dipengaruhi oleh keasaman lambung. Besi tidak dapat diabsorbsi dengan baik bagi pasien yang sedang mendapatkan obat PPI (Omeprazol, Lanzoprazol dll), karena obat PPI tersebut dapat menurunkan keasaman lambung. Pada pasien yang mengalami defisiensi besi, namun dia sedang mendapat pengobatan PPI, maka direkomendasikan pemberian suplemen besi secara intravena. Karena suplemen besi merupakan obat OTC, maka interaksi ini biasanya sulit diidentifikasi. Oleh karena itu Farmasis sebaiknya menanyakan pasien apakah ia sedang menggunakan obat lain, selain mengkonsumsi suplemen Besi.

Kalium

Walaupun Suplemen Kalium ini merupakan jenis suplemen atas resep dokter, namun ada beberapa obat OTC yang mengandung Kalium. Beberapa obat yang dapat meningkatkan konsentrasi kalium dalam tubuh, dapat berinteraksi denga supplement Kalium. Pasien yang harus diberi warning untuk mengkonsumsi suplemen kalium, adalah pasien yang sedang mendapatkan pengobatan ACE Inhibitor (sbg contoh captopril), Digoxin, Indomethacin, obat diuretic seperti Triamterene dan Spronolacton

Walaupun kalium yang terdapat pada obat OTC (pada produk multivitamin n mineral) tidak menyebabkan interaksi obat, namun Farmasis sebaiknya memberi warning kepada pasien yang mempunyai resiko interaksi, yaitu pasien yang mempunyai riwayat gangguan ginjal.

Saat Farmasis menkoseling pasien untuk tidak mengkonsumsi supplement kalium secara berlebihan, maka diberitahukan juga tentang penggunaan produk Garam Subtitusi yang di jual supermarket. Garam tersebut menggunakan Kalium untuk mensubtitusi Natrium. Diberitahukan juga, produk ini sebaiknya dihindari untuk pasien yang mempunyai resiko hyperkalemia. Karena resiko akan lebih besar pada penggunaan garam subtitusi dari pada penggunaan kalium yang terkandung pada obat multivitamin dan mineral.

Semoga tulisan ini bermanfaat :)

Sumber: punyafajriyah.wordpress.com

Selasa, 07 Januari 2014

Vitamin E Bantu Perlambat Kepikunan

Penelitian terbaru menunjukkan, mengonsumsi vitamin E secara rutin setiap haru dapat membantu meringankan penderitaan mereka yang mengalami demensia atau kepikunan.

Sebuah studi pada jurnal JAMA menemukan,  penderita penyakit Alzheimer tingkat ringan dan sedang yang diberi vitamin E dosis tinggi mengalami tingkat penurunan daya ingat lebih lambat daripada mereka yang diberikan plasebo atau pil dummy.

Mereka mampu melaksanakan tugas-tugas sehari-hari dalam jangka waktu lebih lama dan membutuhkan bantuan lebih sedikit dari penjaga, kata sebuah peneliti di Amerika Serikat.

Namun para ahli yang tergabung dalam Alzheimer Society mengatakan dosis yang dipakai sangat tinggi dan mungkin tidak aman.

Dalam studi tersebut, sebanyak 613 orang dengan Alzheimer tingkat ringan sampai sedang menerima dosis harian vitamin E.  Para penderita ini menjalani terapi obat yang dikenal sebagai demensia memantine, yaitu kombinasi vitamin E dan memantine, dan sebagian lain diberikan  plasebo.
Kontroversi

Perubahan kemampuan mereka untuk melaksanakan tugas sehari-hari -seperti mencuci atau berganti pakaian- diukur rata-rata selama lebih dari dua tahun.

"Temuan ini menunjukkan bahwa alpha tocopherol bermanfaat dalam Alzheimer ringan hingga sedang dengan memperlambat penurunan fungsional dan mengurangi beban pengasuh," kata tim yang dipimpin oleh Dr Maurice Dysken dari Minneapolis VA Health Care System.

Mengomentari studi ini, Dr Doug Brown, direktur penelitian dan pengembangan di Alzheimer Society, mengatakan perawatan yang dapat membantu orang dengan demensia melaksanakan tugas sehari-hari adalah kunci untuk memungkinkan orang-orang ini hidup dalam kondisi yang baik selama mungkin.

Namun dia mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat apakah vitamin E benar-benar memiliki manfaat bagi penderita demensia, dan apakah aman memakai dosis tinggi setiap hari.

Sumber: health.kompas.com

Minggu, 22 Desember 2013

Viagra Bantu Atasi Nyeri Menstruasi

Kram perut kerap dialami sebagian wanita menjelang dan memasuki periode menstruasi. Namun, kondisi tersebut ternyata bisa disembuhkan oleh hal yang tidak diduga sebelumnya, yaitu obat disfungsi ereksi.

Sebuah studi berskala kecil dari National Institute of Health menemukan, obat disfungsi ereksi yang memiliki bahan aktif sildenafil (Viagra) dapat membantu meringankan gejala kram perut sedang hingga berat yang berkaitan dengan menstruasi.

Para penelti menemukan, dibandingkan dengan kelompok yang mendapatkan plasebo, obat dari Viagra dapat bekerja efektif menghilangkan kram hingga dua kalinya.

Studi melibatkan 25 peserta wanita dengan rentang usia 18 hingga 35 yang menderita dismenore primer, istilah medis untuk nyeri menstruasi. Kondisi tersebut bahkan menyebabkan 600 juta jam kerja terbuang percuma di Amerika Serikat setiap tahunnya karena karyawan wanita harus mengalaminya.

Selama ini, pengobatan nyeri menstruasi umumnya menggunakan obat-obatan pereda nyeri seperti ibuprofen dan obat anti-inflamasi non-steroid lain. Sayangnya obat-obatan tersebut tidak berfungsi dengan baik bagi setiap wanita dan berpotensi menyebabkan ulkus dan kerusakan ginjal dalam penggunaan jangka panjang.

Sementara itu, menurut studi yang dipublikasi dalam jurnal Human Reproduction ini, Viagra memiliki efek memperlebar pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah pada uterus sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.

"Peningkatan aliran darah pada area tersebut akan meningkatkan pasokan oksigen padanya, sehingga masuk akal jika dikatakan dapat mengobati nyeri menstruasi," ujar Jill Rabin, dokter spesialis kebidanan di Long Island Jewish Medical Center di New Hyde Park, New York, yang tidak terlibat dalam penelitian.

Para peneliti studi mengatakan, sildenafil bahkan tidak memiliki efek samping selama dimanfaatkan dengan penggunaan oral.

Kendati demikian, mereka belum mengetahui secara pasti mekanisme pasti sildenafil dapat meringankan nyeri menstruasi. Pasalnya, pada dua perlakuan, baik dengan plasebo maupun obat sildenafil sama-sama terjadi peningkatan aliran darah pada darah uterus sehingga hal ini tidak sejalan dengan teori sebelumnya.

Penulis studi Richard Legro dari Penn State mengatakan, dibutuhkan penelitian lanjutan untuk membuktikan hal ini. "Jika terbukti benar, mungkin di masa depan Viagra juga dapat dijadikan alternatif pengobatan nyeri menstruasi," pungkasnya.

Sumber: health.kompas.com

Kamis, 10 Oktober 2013

Kiwi, Si Buah Hijau Segar yang Bisa Atasi Masalah Pencernaan

Dok. Thinkstock
Ingin menjaga kesehatan pencernaan? Rajin-rajinlah makan kiwi. Selain kaya antioksidan yang baik untuk kesehatan tubuh dan kulit, buah berwarna hijau ini juga baik bagi sistem pencernaan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Zespri, kandungan enzim di dalam kiwi yang bernama actinidin bisa membantu proses pemecahan protein yang sulit dicerna tubuh seperti daging merah, susu dan ikan.

"Meskipun buah kiwi memang dikenal sebagai obat alami untuk memperbaiki pencernaan, penelitian ini lebih fokus pada manfaatnya dalam memecah protein makanan yang umumnya sulit dicerna ketimbang nutrisi lain," ujar Nele Moorthamers, marketing manager Zespri di Eropa yang memimpin penelitian, seperti dikutip dari Female First.

Kiwi kaya akan actinidin, enzim yang mampu memecah protein lebih cepat dan efektif dibandingkan enzim pencernaan (jika bekerja sendiri). Hal ini menjadikan kiwi sebagai pilihan alami yang efektif mengatasi masalah pencernaan, seperti sembelit.

"Jadi setelah makan daging, Anda sebaiknya makan satu butir kiwi untuk membantu mengurangi kembung dan rasa tidak nyaman karena perut terlalu kenyang," kata Nele.

Hasil studi ini mendapat tanggapan dari Dr Lovedeep Kaur dari Massey University, New Zealand, tempat penelitian dilakukan. Menurutnya, kiwi membantu proses pencernaan di usus kecil, tempat dimana protein diserap.

"Pencernaan protein makanan bisa lebih cepat dan komplit berkat adanya enzim unik yang hanya terdapat dalam buah kiwi (actinidin)," terang Dr Lovedeep.

Dia menambahkan, "Enzim di buah kiwi itu sendiri, bahkan tanpa kehadiran enzim pencernaan, diketahui mampu mencerna banyak kenis protein di dalam makanan terutama yoghurt, keju, tuna dan telur mentah. Jadi kiwi bisa jadi solusi untuk mereka yang bermasalah dengan pencernaan, terutama ketika makan protein." Disarankan makan kiwi 20 menit sampai 1 jam setelah makan.

Selain membantu menjaga kesehatan pencernaan, masih banyak khasiat kiwi yang lainnya. Buah dengan rasa asam-segar ini mengandung vitamin C dua kali lebih banyak ketimbang jeruk. Jadi untuk memenuhi kebutuhan vitamin C per harinya, Anda cukup mengonsumsi satu buah kiwi setiap hari.

Sumber: http://wolipop.detik.com

Jumat, 06 September 2013

Ragi Beras Merah Bantu Turunkan Kolesterol

shutterstock
Ilustrasi beras merah
Banyak orang lebih menyukai bahan-bahan herbal untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Termasuk untuk menurunkan kadar kolesterol. Salah satu bahan herbal yang telah terbukti efektif untuk menurunkan kadar kolesterol jahat adalah ragi beras merah.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Sahid Sahirman Jakarta, dr. Aulia Sani mengatakan, ragi beras merah berfungsi menghambat produksi kolesterol dalam organ hati dan mencegah penebalan plak dalam pembuluh darah dan terhindar dari penyumbatan pembuluh.

Kolesterol sebenarnya secara alami diproduksi dalam organ hati. Namun gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan kurang beraktivitas fisik dapat meningkatkan produksi kolesterol di hati. Faktor keturunan juga berpengaruh terhadap tingginya kadar kolesterol.

"Menghambat produksi kolesterol langsung pada organ  hati dapat menurunkan kadar kolesterol total secara cepat," tutur Aulia dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (18/6/2013) lalu.

Ragi beras merah diketahui mampu menurunkan kadar kolesterol di hati. Dilansir dari situs Drugs, ragi beras merah mengandung senyawa aktif lovastatin yang memiliki efek memperbaiki kadar lemak darah yang terlalu tinggi (hiperlipidemia) . Selain itu ada beberapa bukti juga yang menyebutkan bahwa senyawa tersebut memiliki efek antibakteri dan antikanker.

Ragi beras merah juga mengandung sterol seperti beta-sitosterol dan campesterol yang dapat menghalangi penyerapan kolesterol di usus. Selain itu isolasi asam lemak tidak jenuh seperti oleik, linoleik, dan asam linolenik, dan vitamin B kompleks seperti niasin dalam ragi beras merah juga dapat menjadi solusi dalam mengurangi kolesterol.

Uji klinis suplemen yang mengandung ekstrak ragi beras merah juga dilakukan di Indonesia oleh Aulia pada 40 pasien beberapa waktu lalu menunjukkan hasil yang positif.

"Dalam jangka waktu lima hari, rata-rata kadar LDL (kolesterol jahat) dapat turun hingga 18,87 mg/dL dan kadar trigliserida turun hingga 17,1 mg/dL," papar mantan Direktur Utama Pusat Jantung Harapan Kita ini.

Kadar kolesterol total dalam darah yang dianjurkan adalah kurang dari 200 mg/dL. Sedangkan untuk kadar LDL adalah kurang dari 100 mg/dL, dan trigliserida kurang dari 150 mg/dL. Sementara untuk kadar HDL (kolesterol baik) haruslah di atas 45 mg/dL.

Sumber: http://health.kompas.com

Minggu, 31 Maret 2013

Sakit Kepala Tak Selalu Butuh Obat


Untuk meringankan sakit kepala dan mata lelah, tekan kedua sisi kepala dengan ibu jari selama 20-30 detik.

Sakit kepala termasuk dalam keluhan yang pernah dialami semua orang. Meskipun sakit kepala perlu diredakan, namun sebaiknya Anda tidak langsung meminum obat saat gejala ini menyerang.

Menurut Kepala Pusat Informasi Obat dan Makanan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Reri Indriani, sakit kepala dapat disebabkan banyak hal dan tidak harus diatasi dengan obat. Ia mengatakan, lebih baik berfokus pada penyebabnya daripada menggunakan obat untuk sekedar meredakan rasa sakit.

"Obat merupakan bahan kimia yang berbahaya apabila sembarangan dikonsumsi," ungkap Reri dalam acara BPOM Sahabat Ibu yang bertajuk "STOP: Supaya Terhindar (dari) Obat Palsu" Kamis (28/3/2013) di Jakarta.

Obat pereda rasa sakit, termasuk obat sakit kepala, pada dasarnya hanya berfungsi untuk menghilangkan gejalanya saja, tanpa menyembuhkan penyebabnya. Reri mencontohkan, misalnya kurang tidur bisa menyebabkan sakit kepala. Jadi jika diketahui penyebab dari sakit kepala adalah dari kurang tidur, maka tidur adalah obat terbaik untuk menghilangkan sakit kepala yang dirasakan.

Beberapa penelitian menunjukkan konsumsi obat pereda rasa sakit dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan berbagai kontraindikasi berbahaya. Seperti penyakit jantung, kanker, dan beberapa penyakit saraf.

Sebenarnya sebagian besar sakit kepala akan reda dengan beristirahat . Selain itu ada beberapa cara untuk meredakan gejala sakit kepala tanpa obat, antara lain dengan pijat, akupuntur, peregangan, aerobik, meditasi, yoga, latihan relaksasi, terapi panas dan dingin, membatasi makanan-makanan tertentu, hingga dengan bantuan aliran listrik.

Sumber: health.kompas.com